Minggu, 24 Juni 2012

WHY ?


Beberapa hari ang lalau aku mendapatkan training dari kakak kelasku. Bukan training sih sebenarnya, lebih pada ”PENYAMAAN VISI DAN MISI”. Topik dasar dari agenda tersebut adalah KENAPA ?

Mulai dari :
a.    Kenapa kita ada disini ?

b.    Kenapa kita mau ngurusin ini ?

c.    Kenapa kita mau berurusan dengan orang – orang yang sama dalam waktu yang lama lagi..

d.    Dan kenapa – kenapa lainnya...

Kemudian kakak kelasku itu menerangkan tentang lingkaran ”Why, How dan What” dari lingkaran paling dalam sampai lingkaran paling luar.

Dari lingkaran terdalam itu adalah ”WHY”. Pertanyaan yang aku pikir harus dijawab dan butuh dirasionalisasikan apapun alasannya. Aku tahu memang ada kondisi hal tersebut adalah amniyah –rahasia, red- , tetapi apa salahnya hal ini tetap disosilialisasikan tapi dengan cara yang tidak biasa atau tidak rahasia.

Karena apabila kita merasionalisasikan atau menyampaikan ”kenapa” kita melakukan hal tersebut maka setiap orang yang tergabung dalam jama’ah atau organisasi mengerti kenapa dia harus melakukan hal tersebut dan kita punya mainframe dan cara gerak yang sama. 

Kita punya ritme dan sistem kerja yang sama. Jadi tidak ada lagi tuh yang namanya ”ana ga dianggap” atau ”maunya apa sih” atau ”biarin aja, itu bukan urusan gue”.

Aku tidak menuntut supaya kerahasiaan itu tertutup, tapi kadang – kadang kita butuh rasionalisasi bukan untuk memberantaki, tapi aku yakin untuk membantu.

 
Depok, 2 November 2011

Sabtu, 23 Juni 2012

Forum Perempuan BEM SI : Supporting System Gerakan yang ditunggangi kepentingan Rakyat !


Lahir dari sebuah idealisme untuk meningkatan kapabilitas aktivis mahasiswi di Indonesia yang tergabung dalam aliansi BEM SI, forum ini lahir. Bermula saat Musyawarah Nasional BEM SI di Solo tahun 2009 beberapa aktivis mahasiswi yang sering ikut datang dalam agenda – agenda BEM SI merasakan bahwa perlu adanya wadah untuk untuk para aktivis mahasiswi. Harapannya wadah ini tidak hanya sarana silaturahim dan aktualisasi diri, tetapi juga untuk sarana peningkatan kapabilitas diri terutama dalam hal perpolitikan di Indonesia, pada tataran mahasiswa.

Nama supporting system ini pada awalnya belum Forum Perempuan. Saat itu terlahir dengan nama AWSI, atau Aliansi Wanita Seluruh Indonesia. Saat itu, nama yang diusung (AWSI) memang sempat menjdi kontroversi, karena makna yang tersirat dari kata Aliansi membuat artinya menjadi ada aliansi di dalam aliansi. Setelah melewati pemikiran yang matang, maka AWSI berubah nama menjadi FP atau Forum Perempuan BEM SI
Koordinator Pusat FP BEM SI untuk yang pertama kali diamanahkan kepada Universitas Padjajaran, dengan pejabat pelaksananya adalah Kantry Maharani. Ketika itu gerak dan kinerja FP belum sampai pada tataran up grade kpabilitas hanya baru pada tataran komunikasi dan silaturrahim. Hal ini disebabkan belum banyaknya para presiden mahasiswa yang memahami pentingnya wadah ini untuk para aktivis putri mereka. Tidak hanya itu, belum banyak terlihat sepak terjangnya FP, juga karena saat itu para aktivis putri belum banyak yang mengetahui  adanya Forum ini. Sehingga jumlah anggota aktif FP belum banyak. Akhirnya, pada Munas BEM SI tahun 2010 yng dilaksanakan di Jakarta, FP komitmen kembali. Menanyakan kepada masing – masing personal dan masing – msing universitas, apakah siap melanjutkan estafet FP berikutnya. Seketika itu kami mengatakan siap.

Ketika kami mengatkan bahwa kami siap melanjutkan estafet pergerakan FP, maka pemilihan korpus FP yang baru berlangsung. Saat itu muncul dua nama, STEI SEBI dan UNS. Karena kondisi BEM STEI SEBI saat itu baru kembli aktif dalam ranah BEM SI dan melihat kesiapan dari rekan – rekan UNS dalam mengemban amanah ini, maka amanah Koordintor Pusat FP BEM SI diberikan kepada UNS, dengan pejabat pelaksananya Ni Nyoman Indirawati Kusuma.

Ketika FP diamanahkan kepada UNS, kami baru mulai membaca dan mampu menafsirkan seperti apa fungsi FP. Setelah membuat grand design FP untuk satu tahun dan kami mulai bisa membaca, mau dibawa kemana FP BEM SI, maka gerak FP BEM SI mulai kami rancang dan kami kerjakan. Mulai dari perluasan jaringan kepada tokoh nasional perempuan, pemerintah, pengusaha, pendidik dan para perempuan inspiratif Indonesia. Beberap aksi dan Support aksi juga kami lakukan dalam rangka membantu ”pekerjaan” BEM SI. Aksi yang kami lakukan antara lain, aksi memperingati Hari Anak Nasional (di Bandung)dan  Hari Tanpa TV (di Bandung). Kemudian kami juga mengadakan survey lapangan terkait kepuasan masyarakat terhadap kinerja Pemerintah SBY – Boediono jelang Aksi Akbar 20102011.

Telah banyak yang kami lakukan selama satu tahun ke belakang. Agenda – agenda dari masing – masing wilayah juga sering kami lakukan. Hal ini karena  gerakan FP adalah gerakan berbasis kedaerahan. karena kami mencoba menyikapi isu – isu perempuan dan anak dalam ranah daerah dan wilayah. Sedangkan, isu perempuan dan anak – anak di setiap daerah berbeda.

Akhir bulan Februari lalu, BEM SI kembali mnegadakan Musyawarah Nasional (MUNAS) di Lampung. Struktur dalam jajaran BEM SI berganti. Koordinator Pusat FP BEM SI diamanahkan kepada BEM STEI SEBI, dengan pejabat Pelaksananya Respati Oktaviani.
Banyak PR yang harus kita lakukan bersama – sama untuk mewujudkan BEM SI yang lebih baik, FP BEM SI yang lebih baik dan Indonesia yang lebih baik tentunya... J

*Untuk aktivis putri di  seluruh Indonesia, yang peduli akan nasib bangsa*


Koordinator Pusat FP BEM SI 2012-2013

Respati Oktaviani

SWOT Indonesia tahun 2012 # Economic view :


Krisis yang terjadi di Eropa belakang ini cukup membuat negara – negara lainnya merasakan dampaknya, tidak terkecuali Indonesia. Indonesia yang lebih sering menjadikan Eropa sebagai negara tujuan ekspor, krisis di Eropa membuat kita cukup banyak kehilangan peluang pasar untuk tujuan ekspor. Kondisi ini cukup berpengaruh pada kondisi perekonomian nasional bahkan daerah – daerah di Indonesia. 

Kondisi harga ”komoditas” di dunia, akhir – akhir ini juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan bahkan cenderung tidak pasti. Harga minyak dunia misalnya. Hampir tahun mengalami kenaikan, dan tahun ini Indonesia berencana mencabut subsidi BBM. Hal itu tentu berdampak pada harga – harga barang di pasaran.  Harga pangan dunia yang cenderung mengalami kenaikan terus menerus juga menjadi ancaman tersendiri bagi bangsa Indonesia, karena saat ini yang seharusnya menjadi fokus utama bagi bangsa Indonesia ini adalah bagaimana melindungi harag pangan itu sendiri di Indonesia.

Ekonomi Indonesia pada tahun 2011 kemarin sudah cukup baik. Sayangnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak dibarengi dengan meningkatnya penyerapan tenaga kerja pada sektor perekonomian. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia banyak terjadi pada bidang telekomunikasi, hampir sebesar 15 %. Pertumbuhan pada bidang telekomunikasi pada dasarnya tidak begitu banyak menyerap tenaga kerja. Sedangkan sekto perekonomian yang cukup banyak menyerap tenaga kerja justru pertumbuhannya stagnan.

Jumlah orang miskin di Indonesia juga sudah banyak yang berkurang. Terlepas kita menggunakan data statistik World Bank atau BPS. Tapi ketahuilah, bukan angka yang harus kita perdebatkan. Bukan jumlah orang miskin yang benar itu 80 juta atau 230 juta, tetapi bagaimana mengubah 80 atau 230 juta orang itu menjadi tidak miskin lagi. Kakak kelasku yang saat ini ”kooperatif” dengan pemerintah mengatakan bahwa ”sebenarnya pemerintah itu punya banyak program yang bertugas untuk mengentaskan kemiskinan, mulai dari KUR, PNPM dan lainnya. Yang jadi masalahnya adalah, mahasiswa saat ini ga mau ngawal isu atau program tersebut”.
Dan jadi pertanyaan saya, ”apakah semua program tersebut efektif ??? ”

Kemudian, selain kondisi pemerintahnya yang ”sayang” sama rakyatnya, sebenarnya Indonesia kaya akan sumber daya alam. Ini juga menjadi masalah. Entah menjadi kebiasaan atau memang kita belum mampunya Indonesia dalam pengolahan. Kita lebih sering mengekspor bahan benar – benar mentah dan mengimpor bahan jadi. Sehingga yang mengloah bahan tersebut adalah asing dan diimpor kembali ke Indonesia suah dengan nilai tambah bagi barang tersebut. Sehingga barang yang masuk ke dalam negeri lebih mahal harganya. Sebenarnya apabila celah itu bisa kita manfaatkan dengan baik, maka pendapatan Indonesia sendiri akan naik cukup tinggi.

Inflasi tahun ini diperkirankan akan berada pada level tidak lebih dari 5,3%. Tahukah kawan ternyata hobi belanjanya orang Indonesia ada manfaatnya juga. Karena proses belanja itulah yang membuat orang Indonesia bisa bertahan dalam kondisi krisis (sampai saat ini saya belum paham bagian ini)

Investasi di Indonesia juga sudah lebih dipercaya. Sejak masuk dalam jaaran negera yang bisa ”diinvestasikan”. Sayangnya pemerintah kita terlalu gegabah dalam pemberian ijin untuk investasi. Investasi yang baik, yang dapat diberikan kepada pihak asing adalah pada sektor yang banyak mengambil banyak SDM yang akan dipekerjakan. Namun, pemerintah kita mambaikan porsi yng diberikan kepada pihak asing adalah porsi untuk pertambangn, jadi jangan hran krtika kita merasa bahwa kita yang memiliki tnah Freeport, tetapi bukan kita yang merasakan, lha wong pemerintahya salah ambil langkah. Untuk kebijakan hutang sampai sejauh ini pemerintah masih cukup realistis. Sayangnya lagi lagi pemerintah tidak bisa memanfaatkan hutang trsebut dengan baik. Ketika hutang yang dipinjam dari luar negeri itu dipergunakan untuk membuat infrastruktur yang ada maka pertumbuhan ekonomi akan lebih maju. Misalnya untuk jalan. Indonesia masih sangat kalah denga Cina dalam hal pembangunan jalan. Di Cina setiap hari hampir membangun 14 KM jalan raya, sedangkan Indonesia tiap tahu 1,xx Km. Can you magine that ???

Suku bunga kredit perbankan di tahun 2012 ini juga cukup baik. Bahkan apabila ingin memebuka usaha sangat disarankan untuk membuka usaha di tahun ini  (GREY PEMPEK, are you ready?). namun, tetap saja serendah apapun suku bunga lebih aman menggunakan asas syariah. :D

Disamping banyaknya tantangan yang terjadi di Indonesia, pada dasarnya kita memiliki peluang yang cukup banyak. Jumlah penduduk Indonsia merupakan peluang terbesar kita, belum lagi ribuan sarjana yang dicetak tiap tahunnya. Hal itu tentu membuat kita semakin percaya bahwa dari Indonesia, di Indonesia dan oleh Indonesia, dunia akan bangkit… :D

     Teringat kata kakak kelas saya.. ”saya ga peduli mau neolib kek, mau komunis kek, selama itu bisa mensejahterakan rakyat, why not ..  ?


Wallohua’alaam..


UNJ, 26 Januari 2012

Relevansi RUU KKG - Dengan perjuangan Kartini

Akhir – akhir ini perempuan Indonesia sedang ramai – ramainya membicarakan draft RUU KKG. Pembicaraan yang mulai panas di kalangan anggota DPR terutama komisi VIII sampai ke kalangan aktivis mahasiswi. Rung – ruang diskusi mereka mulai dari ranah politik berbasis BEM sampai ranah keagamaan berbasis LDK. Topik yang dibahas pun tidak hanya sebatas pada tataran pasal mana yang bermasalah tapi juga pada tataran ”bagaimana agama menanggapi” pasal tersebut

Namun, kadang saya masih bertanya dlam hati, ketika kita membicarakan RUU KKG kita sendiri memahami atau tidak apa itu RUU KKG ? Relevansinya terhadap perempuan Indonesia? Dan sebenarnya apakah Undang – Undang ini perlu (nantinya) ?

***
Sebagai perempuan Indonesia, tentu kita mengetahui bahwa pejuang perempuan yang sering diagung – agungkan atas usahanya mengemasipasikan wanita adalah R.A Kartini. Wanita asal Rembang ini sukses membuat para perempuan Indonesia mengagumi slogan tentang emansipasi wanita. Namun sayangnya, tidak semua wanita Indonesia mampu menempatkan slogan emansipasi wanita sesuai pada tempatnya (baca : memahami arti emansipasi wanita).

Banyak perempuan Indonesia yang mendefinisikan emansipasi wanita adalah suatu kesempatan kepada setiap wanita untuk dapat mengekspresikan dan menyalurkan kemampuannya dalam banyak hal. Ada lagi perempuan yang menganggap bahwa emansipasi adalah kesempatan untuk setiap wanita agar ia bisa bebas dari cengkraman laki – laki yang selama ini dianggap sebagai pihak yang mengekang kebebasan seorang perempuan. Bahkan langkah kongkitnya adalah emansipasi dianggap sebagai alat untuk memuluskan jlan bagi wanita yang menginginkn menjadi wanita karir, yang nantinya hidupnya untuk karir bahkan tidak jarang menjadi wanita yang jarang sekali berada di rumah.

Namun, ketahuilah bahwa emasipasi yang seperti ini, bukanlah emansipasi yang diinginkan oleh R.A Kartini. Dalam sebuah penggalan surat Kartini pada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, mematahkan itu semua.

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.

Jadi, konsep emansipasi yang sebenarnya diinginkan RA Kartini adalah konsep seorang wanita itu akan kembali ke rumah. Mendidik generasi penerus bangsa ini. Melalui pendidikan !

Oleh karena itu, Kartini sangat menginginkan sekolah pada saat itu. Bahkan ia juga menginginkan para wanita dapat mengenyam pendidikan saat itu.

***
Atas dasar itulah Kartini mendapatkan gelar pahlwan perempuan yang memperjuangkan kebutuhan wanita.

Namun, sejak munculnya wacana Draft RUU KKG, banyak wanita yang salah kaprah akan lahirnya draft ini. Beberapa golongan wanita mendefinisikan RUU KKG ini adalah calon undang – undang yang nantinya akan membuat wanita agak sedikit bebas melakukan banyak kegiatan. Beberapa golongan wanita bahkan menganggap hadirnya RUU KKG ini mampu membuat mereka menjadi ”wanita seutuhnya”, yang menurut definisi mereka adalah –yang- cemerlang dari segi karir, dan –mampu- menyaingi kaum pria. Hal ini tentu tidak relevan dengan konsep emansipasi wanita yang dibawa oleh Kartini. Yang memang tidak menginginkan wanita untuk berada di luar rumah sebebas bebasnya, Kartini hanya menginginkan wanita mendapatkan pendidikan yang laik dan mampu kembali ke rumah untuk mengurus anak – anaknya.

Sehingga perlu dilihat lagi secara teliti maksud dari akan lahirnya UU ini. apakah memang sesuai dengan konsep emansipasi wanita yang diusung oleh Kartini atau kah perbuatan sekelompok orang yang memang menginginkan wanita bebas  sebebas – bebasnya tanpa memahami hakikat seorang wanita sesungguhnya...

wallohu’alaam

Ciputat, 2 Juni 2012

Jumat, 22 Juni 2012

Jadi Rakyat ???

Fenomena Post Power Syndrome atau biasa disebut dengan PPS yang biasa dialami oleh para aktivis yang sudah bertahun – tahun menghuni chart struktur organisasi tentu membuat segelintir orang bertanya – tanya. Apa sih PPS itu ???
***

Baiklah, aku akan mencoba menjabarkan (versi diriku) tentang apa itu PPS. PPS adalah fenomena yang dirasakan oleh segelintir orang yang gaya hidupnya sangat cepat. Fenomena ini biasanya menyerang para aktivis yang biasa atau sangat biasa bergerak dalam dunia pergerakan atau dunia organisasi. Hal ini biasanya menyerang orang – orang yang tadinya menjabat atau beramanah di tataran tertentu lalu dalam tempo yang singkat dai mau tidak mau, suka atau tidak suka harus digantikan, karena, memang waktunya sudah habis.
Tidak ada yang salah dengan fenomena ini, karena aku yakin semua orang yang dunianya sudah berorganisasi pasti pernah merasakannya. Mulai dari –merasa- ga punya kerjaan, merasa tidak dianggap, merasa sendiri karena mungkin kawan-kawannya masih berada di tempat yang sama atau lainnya. Namun, yang perlu dicermati adalah dampak jangka panjang ketika kita sedang berada pada masa PPS itu dan berusaha secepat kilat keluar dari masa tersebut.

Orang yang kena PPS bisanya lebih sering menyendiri, jalan – jalan ga jelas, ngobrol ngalor ngidul atau bahkan ikut – ikutan ngatur di ranah yang pernah ditinggalkannya.
Itu tidak salah menurutku. Dan itu baik... karena ia masih peduli dengan ranah yang pernah ”membesarkan” namanya. Namun, apabila ketika ia terserang PPS lalu yang terjadi adalah kita meninggalkan segalanya dan menganggap kalau kita tidak lagi penting.
HUH  ..... KE LAUT AJA DEEHHHHH
***

Kalau ada orang yang ga bisa dihubungi karena HP.nya bermasalah aku selalu memarahinya dan mengungkapkan ” Antum itu orang penting, jangan suka matiin HP semena – mena deeehhhh”
Namun, saat ini sering kali aku mendapati, kalu ga beramanah atau tak punya jabatan berarti ga penting. Hmmm
Sungguh kawan. Aku juga pernah merasakan hal tersebut. Bahkan, aku langsung membenci orang – orang yang beramanah tersebut. ASTAGHFIRULLOH...

Namun, lama-lama aku merasakan dan akhirnya jadi sadar. ”Ngapain juga gue mikirin hal macam ini, ga penting juga kali, emang kalau gue ga beramanah, lantas kesempatan gue untuk beramal akan hilang. Ya ngga laaahhhh...”
Naah itu lah yang mau coba kubahasakan disini. Aku merasa bahwa, pun ketika aku menjadi rakyat atau tidak memiliki amanah secara struktur, aku mendapatkan kebebasan yang mungkin tak akan kumiliki kalau akau menjadi pejabat. Tak bisa menjadi pendengar yang baik, tak bisa mengkritk ga bisa marah – marahin atasan seenak – enaknya… haha
Aku memikirkan kalau aku menjadi pejabat, bisa ga ya aku seperti itu ???

Bisa saja sebenarny dengan tidak masukny kita menjadi pejabat, maka kesemptan kita untuk marasakan apa yang dirasakan oleh rakyat dapat juga kita rasakan. Bisa saja kita akan menjadi lebih peka terhadap rakyat, bisa saja kita menjadi penyambung lidah dan aspirasi para rakyat... Who knows.. ???
That we can do it !
That we can get that opportunity...
Tinggal kita nya apakah kita mau memanfaatkan momentum itu atau tidak… !

Hmmm.. iya sahabat, tanpa atau dengan adanya kita di jalan ini, jalan ini akan tetap berjalan.
Sekali lagi.. tinggal kita mau atau ngga mengikutinya. Atau, tinggal kita sendiri... mau jadi penonton atau pemain. Apapu amanah kita... percayalah kita pasti bisa dan kita pasti bermanfaat !



Sawangan, 4 Juni 2012

Kamis, 17 Mei 2012

Jalan-jalan Berbuah LSM Part I


Ini adalah pengalaman ketika aku sedang mumet dan semifrustasi. -.-”
Seorang temanku yang berasal dari Institut Teknologi ternama di kota Bandung, berencana membuat LSM. Waktu itu aku tidak tahu kalau doi punya proyek mau bikin LSM. Ini merupakan akibat doi seorng yang aktif tapi kemudian demisioner lalu –merasa tidak ada kerjaan- :D

Akhirnya doi bikinlah sebuat notes, yang intinya.. NYOK KITE BIKIN SESUATU UNTUK MENGALIHKAN SEMANGAT IDEALIS KITEE... Akhirnya setelah melewati proses yang panjang lahirlah sebuah rencana untuk membuat sebuat LSM.
LSM ini digawangi oleh sekelompok orang yng mengaku mencintai negerinya. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan serta cacat dimana – mana dalam tubuh negerinya ... ehem
***

Fine, sebelumnya aku akan bercerita tentang KITA. Kita adalah segerombolan makhluk yang pernah gabung dalam organisasi mahasiswa di kampusnya masing – masing. Organisasi kampus kmi in tergabung dalam aliansi BEM Seluruh Indonesia. Dengan intensitas yang cukup tinggi untuk bertemu dan saling berbincang – bincang, maka kami merasa bahwa kami sudah seperti keluarga sendiri. Ada yang bertemunya di forum, ada yang bertemunya di jalanan. Wah seru lah pokoknya. Punya saudara yang unbelievable lah. Karena kesamaan pekerjaan itulah kami sering melakukn pekerjaan dan pertemun baik secara legal maupun ilegal :p

Saat ini kondisinya beberapa diantra kmi sudah demisioner dan sudah tidak beramanah di organisasi kampus kami. Sehingga akhirnya kami mengadakan pertemun untuk membahas suatu wadah yang mampu menjadi tempat untuk kami berekspresi.
Itu sebagian kisah yang bisa aku sampaikan tentang KAMI, kapan – kapan akan kusambung lagi. 

*** 


Perencaan pembuatan LSM ini direncanakan oleh salah seorang diantara kami. Yang sangat ingin melakukan sesuatu untuk negerinya. Dengan semangat 45 ditambah semangat untuk menggenapkan diinnya, maka dia pun mulai bergerilya untuk mencari bahkan menyusun AD ART dari –calon LSM kami. Setelah draft tentang AD / ART dibuat, maka perjalanan untuk membuat LSM ini mejadi kenyataan menjadi terbuka. Kami memutuskan untuk berkumpul dalam satu agenda informal, untuk men-GOAL-kan rencana pembuatan LSM kami ini.
Akhirnya pada akhirnya kami pergi ke Malang dalam rangka menyusun dan mentekniskan LSM kami. Akhirnya bertempat di Payung, kawasan wisata di daerah Kota Batu Malang, kami melahirkan gagasan untuk membuat LSM tersebut menjadi kenyataan. Akhirnya kami memberinya nama CIPPS (Center of Indonesian Public Policy Studies).
Insya Alloh, CIPPS ini akan berkembang menjadi sebuah LSM yang nama dan trackrecordnya menyamai ICW, KONTRAS dan LSM lainnya yang sudah ikut menjaga negeri. :)

Selasa, 15 Mei 2012

Dik...


Aku adalah seorang mentor di sebuah SMA yang juga merupakan SMAku dulu. Sekolah ini meng tidak berlabel RSBI. Hanya SSN, tetapi merupakan rintisan sekolah mandiri (entah apa maksud kata mandiri disini). SMA ku juga termasuk dalam jajaran 5 besar sekolah unggulan di DKI Jakarta. Dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimum hampir 8, maka dipastikan semua siswanya cerdas dan mampu melewati pelajaran – pelajaran standar.
Namun, ada beberapa masalah yang akhir – akhir ini aku hadapi. Hampir setiap kali mentoring kami jarang sekali pada formasi lengkap sampai penutupan mentoring. Beberapa diantara adik adikku sering ijin terlebih dahulu untuk mengikuti remedial. Awalnya aku bisa saja, tetapi semakin kesini kejadian itu semakin sering terjadi dan memebuatku berfikir... ada yang salahkah dengan adik – adikku ???
Sesekali aku nyeletuk ”kalian kan anak IPA, kok remed sih IPAnya ... mmm mencurigakan niih” hehehe
Disambut dengan, ”susaaahhh kaaakk” J
***
Pertanyaan ini terus bergelayut di pikiranku sampai suatu ketikan, sebuah berita sampai ke semua mentor di SMA ku. Berita yang sangat mengganggu pikiran karena yang menyampaikan buknlah guru atau mentor. Namun, langsung alumni yang notabenenya beliau tidak ada di SMA. Beliau mendapatkan cerita kalau nilai akademik anak rohis tururn drastis dan membuat anak guru-guru underestimate dengan anak Rohis.
Pekan itu juga ketika mentoring aku langsung bertanya kepada adik – adikku... ini adalah percakapanku dengan adik – adikku :

R:respati
A : Adik – adik
R:mmmm...kk denger kalau akademik kalian bermasalah, bener??? kok bisa ???
A: akademik kita ga bermasalah kok kak, bahkan KELEWAT BAGUS. saking bagusnya kita semua sampai stress (ungkap seorang adik)
A: iya kak, guru - guru itu pada pressure kita,kita udah kaya dijadiin robot kak... "nilai kalian itu harus ditas KKM (ungkap seorang adik lagi)

*saya cuma bengong

A: tau ga kak, yang rangking 1 di kelas aku aja rata2nya 8,47, kk tau berapa rata - rata yang rangking 40 ???, 8,07. jadi bedanya cuma 0 koma sekian kaaaakkk (ungkap seorang adik lagi)
A: terus kak, guru2 BK itu sama aja kaya guru yang lain, tiap masuk kelas yang dibahas KKM, SNMPTN undangan, males banget deh kak, kita juga udah tau kali (ungkap seorang adik lagi)

*saya makin bengong dan merinding (kasian sekali adik2 ku ini)

A: kita itu sekolah cuma untuk nilai kak, kaya ga ada ilmunya aja. sekolah cuma untuk matematika, yang lainnya belajar di rumah (ungkap seorang adik)
A: itu kalau kita mau belajar lagi, kalau ga, ya kita tidur udah capek di sekolah (ungkap seorang adik)
A: aku pernah kak, tempo hari iseng bawa PSP ke kelas, dari pada BT ngedengerin guru2 yang cuma cerita masalah KKM, tau ga kak aku kira cuma aku yang bawa, ternyata banyak yang bawa PSP. terus mereka pada main di kelas (kata seorang adik)
A: kita itu mai semua permainan yang bisa dilakukan diatas meja kak, ABC 5dasar, BBMan, PSP, main kartu kalau bisa, atau tidur (kata seorang adik)
A: oia kak, kk kenal sama kak XXX (menyebut seorang anak kelas XII, bukan anak RHZ) dia itu bilang sama kau ya kak "gue itu mending ga masuk seharian sekolah, tapi gue di QUIN terus gue bimbel disana, belajar disana, lebih masuk buat gue" pas ujian gue bisa, toh guru2 juga ga bisa ngapa2in kalau udah kaya gitu"

***
    Aku lalu berfikir bahwa, kasihan sekali adik – adikku ini. Rasanya momen seperti ini juga pernah aku rasakan ketika SMA, tetapi tidak sampai seperti ini. aku masih bisa haha hihi ria tiap abis pulang sekolah, lari ke masjid lalu kalau diusir maka kami menggunakan senjata yang tidak akan memebuat guru – guru melakukannya lagi (mengusir) kami akan mengucapkan ”NUNGGU ASHAR BU, PULANGNYA ABIS ASHAR” toh kalau pulang maghrib juga ga papa kaan, kita kan bilang abis ashar :D
Baiklah, kembali ke masalah adik adikku yang tadi.
Oia tulisan ini, bukan berarti aku mau mebanding – bandingkan yaa... tetapi saling share aja... :)

    ***
Begini teman- teman, aku memang tidak begitu paham apa ayng menjadi tujuan dari kenapa SMA ku melakukan hal seperti itu. Mempressure para siswa untuk mendapatkan nilai yang diatas rata – rata. Aku bahagia sungguh, ketika memang adik – adikku mendapatkan nilai yang baik dan mendapatkan sekolah yang baik pula nantinya. Namun, apabila usaha yang dilakukan oleh para guru ini membuat para siswa menjadi tidak semangat belajar bahkan bosan untuk sekolah, kupikir perlu dikaji lagi kebijakan untuk menetapkan KKM yang cukup tinggi.
Setiap kali siswa bertanya kepada guru, mereka pasti menjawab, bahwa ini adalah aturan yang diberlakukan dari dinas. Instruksi dari atas seperti itu. Namun, kalau kita meihat UU sisdiknas di Indonesia, kupikir ada yang bermalasalah dalam praktek di lapangan.
Dalam UU Sisdiknas, disebutkan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan adalah memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembeljaran. Namun, apabila prinsip itu tidak tercapai maka, apakah ini yang disebut pendidikan ???
Peserta didik lebih mau berguru langsung kepada buku, tidak kepada seorang guru. Ketika guru menerangkan tidak ada rasa hormat yang hadir. Leih memilih asik dengan gadgetnya masing masing. Apabila guru merasa tidak diperhatikan maka guru akan marah dan tidak terima. Diberi saran menganggap peserta didik hanya anak kecil yang belum tahu apa – apa. Apabila seperti itu, dimana letak sebuah keteladanan ???

Wallohu’alaam...

*hanya sekadar share :)