Sabtu, 23 Juni 2012

Relevansi RUU KKG - Dengan perjuangan Kartini

Akhir – akhir ini perempuan Indonesia sedang ramai – ramainya membicarakan draft RUU KKG. Pembicaraan yang mulai panas di kalangan anggota DPR terutama komisi VIII sampai ke kalangan aktivis mahasiswi. Rung – ruang diskusi mereka mulai dari ranah politik berbasis BEM sampai ranah keagamaan berbasis LDK. Topik yang dibahas pun tidak hanya sebatas pada tataran pasal mana yang bermasalah tapi juga pada tataran ”bagaimana agama menanggapi” pasal tersebut

Namun, kadang saya masih bertanya dlam hati, ketika kita membicarakan RUU KKG kita sendiri memahami atau tidak apa itu RUU KKG ? Relevansinya terhadap perempuan Indonesia? Dan sebenarnya apakah Undang – Undang ini perlu (nantinya) ?

***
Sebagai perempuan Indonesia, tentu kita mengetahui bahwa pejuang perempuan yang sering diagung – agungkan atas usahanya mengemasipasikan wanita adalah R.A Kartini. Wanita asal Rembang ini sukses membuat para perempuan Indonesia mengagumi slogan tentang emansipasi wanita. Namun sayangnya, tidak semua wanita Indonesia mampu menempatkan slogan emansipasi wanita sesuai pada tempatnya (baca : memahami arti emansipasi wanita).

Banyak perempuan Indonesia yang mendefinisikan emansipasi wanita adalah suatu kesempatan kepada setiap wanita untuk dapat mengekspresikan dan menyalurkan kemampuannya dalam banyak hal. Ada lagi perempuan yang menganggap bahwa emansipasi adalah kesempatan untuk setiap wanita agar ia bisa bebas dari cengkraman laki – laki yang selama ini dianggap sebagai pihak yang mengekang kebebasan seorang perempuan. Bahkan langkah kongkitnya adalah emansipasi dianggap sebagai alat untuk memuluskan jlan bagi wanita yang menginginkn menjadi wanita karir, yang nantinya hidupnya untuk karir bahkan tidak jarang menjadi wanita yang jarang sekali berada di rumah.

Namun, ketahuilah bahwa emasipasi yang seperti ini, bukanlah emansipasi yang diinginkan oleh R.A Kartini. Dalam sebuah penggalan surat Kartini pada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, mematahkan itu semua.

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.

Jadi, konsep emansipasi yang sebenarnya diinginkan RA Kartini adalah konsep seorang wanita itu akan kembali ke rumah. Mendidik generasi penerus bangsa ini. Melalui pendidikan !

Oleh karena itu, Kartini sangat menginginkan sekolah pada saat itu. Bahkan ia juga menginginkan para wanita dapat mengenyam pendidikan saat itu.

***
Atas dasar itulah Kartini mendapatkan gelar pahlwan perempuan yang memperjuangkan kebutuhan wanita.

Namun, sejak munculnya wacana Draft RUU KKG, banyak wanita yang salah kaprah akan lahirnya draft ini. Beberapa golongan wanita mendefinisikan RUU KKG ini adalah calon undang – undang yang nantinya akan membuat wanita agak sedikit bebas melakukan banyak kegiatan. Beberapa golongan wanita bahkan menganggap hadirnya RUU KKG ini mampu membuat mereka menjadi ”wanita seutuhnya”, yang menurut definisi mereka adalah –yang- cemerlang dari segi karir, dan –mampu- menyaingi kaum pria. Hal ini tentu tidak relevan dengan konsep emansipasi wanita yang dibawa oleh Kartini. Yang memang tidak menginginkan wanita untuk berada di luar rumah sebebas bebasnya, Kartini hanya menginginkan wanita mendapatkan pendidikan yang laik dan mampu kembali ke rumah untuk mengurus anak – anaknya.

Sehingga perlu dilihat lagi secara teliti maksud dari akan lahirnya UU ini. apakah memang sesuai dengan konsep emansipasi wanita yang diusung oleh Kartini atau kah perbuatan sekelompok orang yang memang menginginkan wanita bebas  sebebas – bebasnya tanpa memahami hakikat seorang wanita sesungguhnya...

wallohu’alaam

Ciputat, 2 Juni 2012

Jumat, 22 Juni 2012

Jadi Rakyat ???

Fenomena Post Power Syndrome atau biasa disebut dengan PPS yang biasa dialami oleh para aktivis yang sudah bertahun – tahun menghuni chart struktur organisasi tentu membuat segelintir orang bertanya – tanya. Apa sih PPS itu ???
***

Baiklah, aku akan mencoba menjabarkan (versi diriku) tentang apa itu PPS. PPS adalah fenomena yang dirasakan oleh segelintir orang yang gaya hidupnya sangat cepat. Fenomena ini biasanya menyerang para aktivis yang biasa atau sangat biasa bergerak dalam dunia pergerakan atau dunia organisasi. Hal ini biasanya menyerang orang – orang yang tadinya menjabat atau beramanah di tataran tertentu lalu dalam tempo yang singkat dai mau tidak mau, suka atau tidak suka harus digantikan, karena, memang waktunya sudah habis.
Tidak ada yang salah dengan fenomena ini, karena aku yakin semua orang yang dunianya sudah berorganisasi pasti pernah merasakannya. Mulai dari –merasa- ga punya kerjaan, merasa tidak dianggap, merasa sendiri karena mungkin kawan-kawannya masih berada di tempat yang sama atau lainnya. Namun, yang perlu dicermati adalah dampak jangka panjang ketika kita sedang berada pada masa PPS itu dan berusaha secepat kilat keluar dari masa tersebut.

Orang yang kena PPS bisanya lebih sering menyendiri, jalan – jalan ga jelas, ngobrol ngalor ngidul atau bahkan ikut – ikutan ngatur di ranah yang pernah ditinggalkannya.
Itu tidak salah menurutku. Dan itu baik... karena ia masih peduli dengan ranah yang pernah ”membesarkan” namanya. Namun, apabila ketika ia terserang PPS lalu yang terjadi adalah kita meninggalkan segalanya dan menganggap kalau kita tidak lagi penting.
HUH  ..... KE LAUT AJA DEEHHHHH
***

Kalau ada orang yang ga bisa dihubungi karena HP.nya bermasalah aku selalu memarahinya dan mengungkapkan ” Antum itu orang penting, jangan suka matiin HP semena – mena deeehhhh”
Namun, saat ini sering kali aku mendapati, kalu ga beramanah atau tak punya jabatan berarti ga penting. Hmmm
Sungguh kawan. Aku juga pernah merasakan hal tersebut. Bahkan, aku langsung membenci orang – orang yang beramanah tersebut. ASTAGHFIRULLOH...

Namun, lama-lama aku merasakan dan akhirnya jadi sadar. ”Ngapain juga gue mikirin hal macam ini, ga penting juga kali, emang kalau gue ga beramanah, lantas kesempatan gue untuk beramal akan hilang. Ya ngga laaahhhh...”
Naah itu lah yang mau coba kubahasakan disini. Aku merasa bahwa, pun ketika aku menjadi rakyat atau tidak memiliki amanah secara struktur, aku mendapatkan kebebasan yang mungkin tak akan kumiliki kalau akau menjadi pejabat. Tak bisa menjadi pendengar yang baik, tak bisa mengkritk ga bisa marah – marahin atasan seenak – enaknya… haha
Aku memikirkan kalau aku menjadi pejabat, bisa ga ya aku seperti itu ???

Bisa saja sebenarny dengan tidak masukny kita menjadi pejabat, maka kesemptan kita untuk marasakan apa yang dirasakan oleh rakyat dapat juga kita rasakan. Bisa saja kita akan menjadi lebih peka terhadap rakyat, bisa saja kita menjadi penyambung lidah dan aspirasi para rakyat... Who knows.. ???
That we can do it !
That we can get that opportunity...
Tinggal kita nya apakah kita mau memanfaatkan momentum itu atau tidak… !

Hmmm.. iya sahabat, tanpa atau dengan adanya kita di jalan ini, jalan ini akan tetap berjalan.
Sekali lagi.. tinggal kita mau atau ngga mengikutinya. Atau, tinggal kita sendiri... mau jadi penonton atau pemain. Apapu amanah kita... percayalah kita pasti bisa dan kita pasti bermanfaat !



Sawangan, 4 Juni 2012

Kamis, 17 Mei 2012

Jalan-jalan Berbuah LSM Part I


Ini adalah pengalaman ketika aku sedang mumet dan semifrustasi. -.-”
Seorang temanku yang berasal dari Institut Teknologi ternama di kota Bandung, berencana membuat LSM. Waktu itu aku tidak tahu kalau doi punya proyek mau bikin LSM. Ini merupakan akibat doi seorng yang aktif tapi kemudian demisioner lalu –merasa tidak ada kerjaan- :D

Akhirnya doi bikinlah sebuat notes, yang intinya.. NYOK KITE BIKIN SESUATU UNTUK MENGALIHKAN SEMANGAT IDEALIS KITEE... Akhirnya setelah melewati proses yang panjang lahirlah sebuah rencana untuk membuat sebuat LSM.
LSM ini digawangi oleh sekelompok orang yng mengaku mencintai negerinya. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan serta cacat dimana – mana dalam tubuh negerinya ... ehem
***

Fine, sebelumnya aku akan bercerita tentang KITA. Kita adalah segerombolan makhluk yang pernah gabung dalam organisasi mahasiswa di kampusnya masing – masing. Organisasi kampus kmi in tergabung dalam aliansi BEM Seluruh Indonesia. Dengan intensitas yang cukup tinggi untuk bertemu dan saling berbincang – bincang, maka kami merasa bahwa kami sudah seperti keluarga sendiri. Ada yang bertemunya di forum, ada yang bertemunya di jalanan. Wah seru lah pokoknya. Punya saudara yang unbelievable lah. Karena kesamaan pekerjaan itulah kami sering melakukn pekerjaan dan pertemun baik secara legal maupun ilegal :p

Saat ini kondisinya beberapa diantra kmi sudah demisioner dan sudah tidak beramanah di organisasi kampus kami. Sehingga akhirnya kami mengadakan pertemun untuk membahas suatu wadah yang mampu menjadi tempat untuk kami berekspresi.
Itu sebagian kisah yang bisa aku sampaikan tentang KAMI, kapan – kapan akan kusambung lagi. 

*** 


Perencaan pembuatan LSM ini direncanakan oleh salah seorang diantara kami. Yang sangat ingin melakukan sesuatu untuk negerinya. Dengan semangat 45 ditambah semangat untuk menggenapkan diinnya, maka dia pun mulai bergerilya untuk mencari bahkan menyusun AD ART dari –calon LSM kami. Setelah draft tentang AD / ART dibuat, maka perjalanan untuk membuat LSM ini mejadi kenyataan menjadi terbuka. Kami memutuskan untuk berkumpul dalam satu agenda informal, untuk men-GOAL-kan rencana pembuatan LSM kami ini.
Akhirnya pada akhirnya kami pergi ke Malang dalam rangka menyusun dan mentekniskan LSM kami. Akhirnya bertempat di Payung, kawasan wisata di daerah Kota Batu Malang, kami melahirkan gagasan untuk membuat LSM tersebut menjadi kenyataan. Akhirnya kami memberinya nama CIPPS (Center of Indonesian Public Policy Studies).
Insya Alloh, CIPPS ini akan berkembang menjadi sebuah LSM yang nama dan trackrecordnya menyamai ICW, KONTRAS dan LSM lainnya yang sudah ikut menjaga negeri. :)

Selasa, 15 Mei 2012

Dik...


Aku adalah seorang mentor di sebuah SMA yang juga merupakan SMAku dulu. Sekolah ini meng tidak berlabel RSBI. Hanya SSN, tetapi merupakan rintisan sekolah mandiri (entah apa maksud kata mandiri disini). SMA ku juga termasuk dalam jajaran 5 besar sekolah unggulan di DKI Jakarta. Dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimum hampir 8, maka dipastikan semua siswanya cerdas dan mampu melewati pelajaran – pelajaran standar.
Namun, ada beberapa masalah yang akhir – akhir ini aku hadapi. Hampir setiap kali mentoring kami jarang sekali pada formasi lengkap sampai penutupan mentoring. Beberapa diantara adik adikku sering ijin terlebih dahulu untuk mengikuti remedial. Awalnya aku bisa saja, tetapi semakin kesini kejadian itu semakin sering terjadi dan memebuatku berfikir... ada yang salahkah dengan adik – adikku ???
Sesekali aku nyeletuk ”kalian kan anak IPA, kok remed sih IPAnya ... mmm mencurigakan niih” hehehe
Disambut dengan, ”susaaahhh kaaakk” J
***
Pertanyaan ini terus bergelayut di pikiranku sampai suatu ketikan, sebuah berita sampai ke semua mentor di SMA ku. Berita yang sangat mengganggu pikiran karena yang menyampaikan buknlah guru atau mentor. Namun, langsung alumni yang notabenenya beliau tidak ada di SMA. Beliau mendapatkan cerita kalau nilai akademik anak rohis tururn drastis dan membuat anak guru-guru underestimate dengan anak Rohis.
Pekan itu juga ketika mentoring aku langsung bertanya kepada adik – adikku... ini adalah percakapanku dengan adik – adikku :

R:respati
A : Adik – adik
R:mmmm...kk denger kalau akademik kalian bermasalah, bener??? kok bisa ???
A: akademik kita ga bermasalah kok kak, bahkan KELEWAT BAGUS. saking bagusnya kita semua sampai stress (ungkap seorang adik)
A: iya kak, guru - guru itu pada pressure kita,kita udah kaya dijadiin robot kak... "nilai kalian itu harus ditas KKM (ungkap seorang adik lagi)

*saya cuma bengong

A: tau ga kak, yang rangking 1 di kelas aku aja rata2nya 8,47, kk tau berapa rata - rata yang rangking 40 ???, 8,07. jadi bedanya cuma 0 koma sekian kaaaakkk (ungkap seorang adik lagi)
A: terus kak, guru2 BK itu sama aja kaya guru yang lain, tiap masuk kelas yang dibahas KKM, SNMPTN undangan, males banget deh kak, kita juga udah tau kali (ungkap seorang adik lagi)

*saya makin bengong dan merinding (kasian sekali adik2 ku ini)

A: kita itu sekolah cuma untuk nilai kak, kaya ga ada ilmunya aja. sekolah cuma untuk matematika, yang lainnya belajar di rumah (ungkap seorang adik)
A: itu kalau kita mau belajar lagi, kalau ga, ya kita tidur udah capek di sekolah (ungkap seorang adik)
A: aku pernah kak, tempo hari iseng bawa PSP ke kelas, dari pada BT ngedengerin guru2 yang cuma cerita masalah KKM, tau ga kak aku kira cuma aku yang bawa, ternyata banyak yang bawa PSP. terus mereka pada main di kelas (kata seorang adik)
A: kita itu mai semua permainan yang bisa dilakukan diatas meja kak, ABC 5dasar, BBMan, PSP, main kartu kalau bisa, atau tidur (kata seorang adik)
A: oia kak, kk kenal sama kak XXX (menyebut seorang anak kelas XII, bukan anak RHZ) dia itu bilang sama kau ya kak "gue itu mending ga masuk seharian sekolah, tapi gue di QUIN terus gue bimbel disana, belajar disana, lebih masuk buat gue" pas ujian gue bisa, toh guru2 juga ga bisa ngapa2in kalau udah kaya gitu"

***
    Aku lalu berfikir bahwa, kasihan sekali adik – adikku ini. Rasanya momen seperti ini juga pernah aku rasakan ketika SMA, tetapi tidak sampai seperti ini. aku masih bisa haha hihi ria tiap abis pulang sekolah, lari ke masjid lalu kalau diusir maka kami menggunakan senjata yang tidak akan memebuat guru – guru melakukannya lagi (mengusir) kami akan mengucapkan ”NUNGGU ASHAR BU, PULANGNYA ABIS ASHAR” toh kalau pulang maghrib juga ga papa kaan, kita kan bilang abis ashar :D
Baiklah, kembali ke masalah adik adikku yang tadi.
Oia tulisan ini, bukan berarti aku mau mebanding – bandingkan yaa... tetapi saling share aja... :)

    ***
Begini teman- teman, aku memang tidak begitu paham apa ayng menjadi tujuan dari kenapa SMA ku melakukan hal seperti itu. Mempressure para siswa untuk mendapatkan nilai yang diatas rata – rata. Aku bahagia sungguh, ketika memang adik – adikku mendapatkan nilai yang baik dan mendapatkan sekolah yang baik pula nantinya. Namun, apabila usaha yang dilakukan oleh para guru ini membuat para siswa menjadi tidak semangat belajar bahkan bosan untuk sekolah, kupikir perlu dikaji lagi kebijakan untuk menetapkan KKM yang cukup tinggi.
Setiap kali siswa bertanya kepada guru, mereka pasti menjawab, bahwa ini adalah aturan yang diberlakukan dari dinas. Instruksi dari atas seperti itu. Namun, kalau kita meihat UU sisdiknas di Indonesia, kupikir ada yang bermalasalah dalam praktek di lapangan.
Dalam UU Sisdiknas, disebutkan bahwa prinsip penyelenggaraan pendidikan adalah memberi keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembeljaran. Namun, apabila prinsip itu tidak tercapai maka, apakah ini yang disebut pendidikan ???
Peserta didik lebih mau berguru langsung kepada buku, tidak kepada seorang guru. Ketika guru menerangkan tidak ada rasa hormat yang hadir. Leih memilih asik dengan gadgetnya masing masing. Apabila guru merasa tidak diperhatikan maka guru akan marah dan tidak terima. Diberi saran menganggap peserta didik hanya anak kecil yang belum tahu apa – apa. Apabila seperti itu, dimana letak sebuah keteladanan ???

Wallohu’alaam...

*hanya sekadar share :)

Kamis, 22 September 2011

Kuharap Kau Mengerti...


”tahu ga kenapa saya sangat keras terhadap kalian yang tidak bisa baca qur’an. Maksud saya, kenapa saya pengen banget kalian bisa baca Qur’an ..??
Tanyaku siang ini pada beberapa adik kelasku yang memenag tiga tahun telah aku bersamanya...
Juga pada kita semua, termasuk diriku. Kenapa aku mencoba sangat keras kepada kita agar selau membaca Qur’an, atau minimal pernah dan bisa membaca Qur’an...

***
Hal ini kuketahui, ketika Idul Fitri, aku lupa kapan.. 1431 atau 1430 H. Hari itu kami sedang makan pagi, lalu tiba – tiba ayahku bercerita.. enteng sekali. Namun aku mengetahui bahwa dalam hatinya, pasti menyimpan kegelisahan yang cukup mendasar.
”kamu tahu ga, kalau orang STEP Itu ada sekitar 1500 syaraf dalam otaknya yang putus”
Aku tidak menjawab, hanya bengong. HAH? Masa ?
”iya, kemarin kan bapak ketemu temen bapak yang dokter. Terus bapak lihat anaknya agak –maaf- mengelami kekurangan dalam melakukan sesuatu. Walaupun terlihat normal. terus kan bapak tanya.. anaknya sakit ya bu. Terus dia bilang, sebenernya dia ga sakit pak, Cuma pas waktu kecil dia pernah STEP. Dan kalau menurut penelitian di dokter, kalau sekali step itu ada 1500 syaraf yang putus”
Lalu bapakku dengan santainya bilang ”lah anak laki – laki saya yang kedua pernah STEP 4 kali, berarti 6000 syaraf bu ??”
Dokter itu cukup heran.. ”4 kali pak ? masa ? masih hidup?”
”masih, masih sekolah. Itu di STM tiap hari. Kenapa bu ?”
”beneran pak masih hidup?” tanyanya masih penasaran .
”masih bu”
”yang udah – udah sih pak, orang step sampai 2 kali aja udah meninggal. Anak bapak sampai 4 kali masih bisa hidup. Subhanallah” ujarnya
***
Dahulu, kami suka kesal bahkan cenderung mengatakan bahwa adikku yang satu ini agak kurang rajin. Karena memang berbeda, kalau disuruh mengerjakan sesuatu yang menghitung dia tidak bisa, belajar sastra atau bahasa sangat sulit menghafal apa lagi. Namun, kalau disuruh menggambar, melakukan praktek terhadap sesuatu langsung dia kejakan. Bahkan cenderung sangat cepat dibanding teman – temannya. Itu cukup aneh buat kami. Sampai akhirnya dia pernah mogok sekolah karena dimasukan ke jurusan elektro, yang notabene menghitung dan menghafal rumus. Jelas dia terancam tidak naik kelas. Dia pilih di rumah, ngutak ngatik motor.

Kami sempat bingung, ini anak maunya apa sih. Kami masukan ke jurusan yang hampir tiap hari praktek, otomotif. Walaupun pada saat dipindahkan dia berada di kelas yang ”akhir”, tetapi ketika naik kelas dia langsung masuk kelas yang ”pertama”.

Namun, bukan itu yang ingin aku ceritakan. Pernah kubertanya kepada seorang temanku yang ”calon dokter”. Tahu ga apa kalau syaraf putus apa yang bisa nyambunginnya. Dia diam, dia bilang ”belum pernah tahu kak”. Nanti kalau udah belajar syaraf tolong tanyain guru kamu ya. Kasih tahu saya.
Lalu penah kutanya lagi, kepada seorang kawanku yang ”calon dokter” juga, tapi udah mau lulus. Tahu ga kalau syaraf putus apa yang bisa nyambungin ???”. terus dia bilang ”oia ya nduk, kok aku ga pernah nanya ya, nanti ya aku tanyain”

Sampai sekarang aku belum pernah mengetahui apa yang bisa menyambungkan syaraf. Lalu aku teringat kisah seseorang (yang aku lupa dimana yaaa... aku menemukannya)

Pernah kudengar bahwa anak yang masih dalam kandungan kalau dikasih musik klasik akan bisa merangsang tersambungnya neutron dan syaraf. Lalu saudariku yang pada saat itu sedang hamil, dia bilang mau sering – sering baca Qur’an. Soalnya itu bisa merangsang daya otak. Sebenarnya musik benar, tapi jauh lebih baik lagi kalau baca Qur’an. Apalagi kalau ibunya sendiri yang membaca dan tartil. Itu bagus banget....

Lalu aku berfikir, masa adikku yang sudah berumur 17th ini mau disuruh dengerin musik klasik ??? yang ada dia pilih dengerin lagu Iwan Fals. Oia... kalau dia baca Qur’an dengan tartil ada kemungkinan untuk nyambung lagi kali ya.. ya walaupun ga nyambung banyak tapi minimal bisa lah, untuk menyambungkan beberapa syaraf yang cukup penting.

Sampai sekarang aku masih dalam tahap menyimpan dan menyadarkan adikku.. ayolah dek, aku belum sanggup untuk menyampaikan atau bahkan aku sudah pernah menyampaikan secara tersirat, tapi kau belum mengerti atau bahkan kau belum tahu bahwa dengan membaca Qur’an insyaAlloh, Alloh akan menolong

Tentang Aku,Kau dan Keluarga Kecil Kita


 
Akhirnya kami harus terpecah lagi. Setelah dua tahun lalu harus merelakan dua orang untuk pergi, tiga sebenarnya, tapi yang satu memutuskan untuk kembali ke Jakarta dengan beberapa alasan, yang salah satunya masih kuingat ”soalnya pas dosen gue nerangin organ – organ, gue gambar rumah reess, jadi itu bukan rumah gue. Gue keluar deh”. walaupun awalnya aku sangat syok. Sampai akhirnya surat transfer itu kembali ke tangan ”Bunda” kami. Baru aku percaya ”kalau lo kasih ini surat ke ”Bundo” baru gue percaya. Di depan gue ya”. Sekarang kami harus merelakan tiga orang untuk pergi.

Itu kejadian dua tahun lalu, seingatku setelah lebaran. Namun, sekarang aku harus menerima kenyataan lagi. Kawan kami tiga orang harus ”menyambung” hidup pendidikannya. Semarang dan Bandung lah tujuannya. Sebenarnya aku antara sedih dan gembira. Gembira karena kawanku mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sungguh tiada kebahagiannya lain ketika kawanku, salah ding, SAUDARAKU mendapatkan apa yang diinginkan. Apalagi ia harus rela menunggu 2 tahun untuk mengejarnya.

Sekarang keluarga kami yang di Jakarta tinggal 3. Yang sering mengunjungi dan mengurus ”Rumah” kami tinggal 2. Aku tahu ada atau tidaknya kalian di sampingku aku harus tetap mengurus ”Rumah” kita. Tapi kadang, kangenku sering menggelayuti. Sediiih banget ketika inget kita sama – sama meramaikan ”Rumah” dengan gelak tawa dan kebersamaan tanpa beban dan perasaan tulus dari masing – masing kita.
Hiks...

Aku tidak ingin mengkomparasi antara dulu dan sekarang. Namun, inilah yang kurasa...
Sediiiih... pasti aku kangen sama kalian. Bersama – sama menemani ”Bunda” kita tiap pekan dalam jenjang menuju S1nya. Sampai kita bikinin cokelat. Terus dia shock ”ada apa nih, kok tiba-tiba kalian ke rumah???” terus tanpa dosa kita bilang ”hehehe.. kita Cuma mau nganterin ini kok”

Saudaraku yang sangat aku cintai karena Alloh, Semurni Kaum Anshor Mencintai Kaum Muhajirin dan Tanpa Lilin... Hiks

Hati – hati yaa di Rantau Orang, jangan pada nakal, jangan lupa belajar bahasa Jawa sama Sunda :D
INGAT SARAPAN !!!!
Naaaaaiiii... nanti Respati pulang sendiri, kita ga bisa makan rujak di angkot lagiiii .... hiks hiks hiks

Ciputat, 16 Romadhon 1432 H
16 Agustus 2011

Akhirnya Pindah Kosan....



Setelah menunggu hampir 1bulan, akhirnya aku dan 2 sahabatku pindah kosan. Ya karena kami telah 2kali kemalingan. Hiks sedih ya..

Yaa walaupun barang-barangku tidak ada yang ilang. Namun yang menyadari kami kehilangan sejumlah barang pada awalnya adalah aku. Ya iyalah secara aku sering ke kosan walau hanya sekadar membersihkan, tetapi sadar diri bahwa ada beberapa barang yang telah ”diamankan” itu lamaaaa banget.

Jadi begini kawan, kisah ini berawal ketika tanggal 23 Agustus kemarin aku ”main-main” ke kosan. Awalnya aku biasa saja ketika masuk ke dalam kosan. Aku mulai menyapu kosan seperti biasa yang aku lakukan kalau aku datang ke kosan. Setelah kosan dirasa agak bersih, lalu aku mulai bersiap-siap menuangkan ”ramuan” untuk mengepel. (waktu itu gw bener-bener kagak sadar kalau beberapa barang kami tuh ilang)

Mulai ngepel tuh... udah aja aku membersihkan sambil nyanyi-nyanyi (ngga ding sambil mikir lebih tepatnya, kayanya ada yang aneh tapi apaaa yak). Udah aja aku ngepel... ”ah mau pakai kipas ah, biar cepet kering terus cepet pulang”

Pergilah aku ke ruang depan tempat kipas angin dan beberapa barang bertengger. Namun... jeng jeng jeng..
”kok kipas angin kagak ada yak??? Hmmm... LHO?!?  magic com juga kagak ada,,, kemana mereka ???”
Langsung saja aku sms kawanku pemilik kedua barang tersebut...
”guys,, kalian bawa pulang kipas sama magic com yaa??”
Dua-duanya jawab.. ”Ngga”
Yang satu nelpon ”kak, emang ga ada”
”ga ada”
”coba periksa lemari kak”

Udah aja lalu aku periksa semua lemari kami. Hasilnya :
·         Lemari adik tingkatku dibuka paksa. Memang tidak ada barang yang ilang sih. Cuma magic  com aja  (tetep aja ngenes yak)
·         Lemari kawan seangkatanku, dibuka paksa dan dirusak. Disabotase kuncinya. Dan uang di dalam laci lemari raib.
·         Lemariku  tetap aman, karena semua barang – barangku, aku bawa pulang.

Udah aja aku pulang dengan hati bingung kalut, kacau, aaaaaaah ga tau deh. aku sempat mencari kosan di daerah sana untuk jaga-jaga kalau pindah kosan.


Hari demi hari kulewati dengan hati deg degan ”kapaaan kiranya aku dapat kosan yang lebih layak dan tidak diincar oleh orang yang mungkin butuh, tapi caranya yang salah.
Sampai akhirnya H+10 Lebaran aku ditemani oleh kawan KESMA (Karena yang nganterin aku dan kawanku cuma satu orang aja, jadi kawan)

Aku mendapatkan kosan yang sangat lebih layak. Walaupun harganya juga memang layak :D
Lebih dekat dengan kampus, lebih banyak tetangganya (walau lebih banyak anak kecilnya), lumayan lah ga bikin lumanyun :D

***
Naah, tetapi sebenarnya bukan itu yang ingin aku sampaikan. Jadi gini sahabat, dulu ketika aku ingin ngekos aku sangat ingat petuah dari guru spiritualku (lupa kata – katanya, tapi esensinya kira-kira begini)

”Res, jangan pernah ninggalin barang berharga di kosan. Kosan itu bukan rumah kita,jadi jangan pernah menganggap bahwa kosan itu rumah kedua kita. Iitu hanya tempat singgah kita dari aktifitas sehari-hari kita. Jadi aurat, aib2 diri kita harap ditutupi. Karena sekai lagi itu bukan rumah kita. Ya di rumah juga kita mesti jaga diri”

Itulah pesan guruku, sebelum akhirnya aku diACC untuk ngekos (karena ACC untuk ngekos paling susah dari beliau :D)

Karena pesan itulah, alhamdulillah aku selamat dari dua kali tragedi diamankannya beberapa barang-barang di kosan dan semoga di kosan baru ini kami tetap bersaudara dan betah dan tidak terganggu dengan hal – hal aneh, lebih saling sayang dengan yang lain. Karena kita dapat 2 adik baru.


Kosan baru, saudara baru... !

*Euforia kosan baru

Sekian semoga bermanfaat..



14 Syawal 1432 H
12 September 2011