Minggu, 23 September 2012

Antara Citra, Integritas Loyalitas dan Reputasi

Pemilukada DKI Jakarta telah berakhir. Namun, tampaknya pertarungan masih belum selesai. Baik di media mupun di ranah nyata. Masing – masing pendukung calon masih meramaikan media dan masyarakat untuk tetao yakin dan percaya kapada calon yang diusungnya. Kalau menang berarti ”meyakinkan” masyarakat karena tak salah pilih, karena calonnya akan bisa menyelesaikan masalah Jakarta dengan berkaca pada kesuksesan yang didulang di daerah asalnya, tanpa melihat latar belakang sang calon. Sedang pihak yang satunya ”meyakinkan” masyarakat bahwa yang menag itu belum tentu baik. Namun, ada satu kegiatan yang sebenernya sama – sama dilakukan oleh masing – masing pihak, PENCITRAAN.

*****
Dipungkiri atau tidak, ketika seseorang hedak maju sebagai calon pemimpin, maka orang yang berada di sekitarnya akan melakukan tahap awal dalam mensosialisasikan sang calon. PENCITRAAN. Pencitraan adalah suatu proes yang dilakukan seseorang untuk membuat orang lain itu dikenal oleh masyarakat. Citra ini bisa dibangun. Caranya adalah dengan menyampaikan informasi secara terus menerus tentang seseorang atau tentang suatu hal tentang. Akhirnya dari informasi yang dilakukan secara terus menerus maka orang tersebut akan memiliki kesan dan brand  tersendiri untuk dirinya.
Inilah yang dilakukan oleh media pada saat itu. Mencitrakan Jokowi sebagai walikota yang sukses di Solo. Belum lagi citra tentang mendukungnya terhadap pendidikan dengan program mobil Esemka yang terus dipromosikan. Masyarakat sangat senang ketika pemberitaan tentang Jokowi berlangsung. Seakan mereka telah menemukan sosok pemimpin Jakarta masa depan. Media tak kalah bahagia. Dengan pencitraan yang dilakukan maka ratting beritanya akan naik pula.
Tak mau kalah dengan dengan rivalnya. Fauzi Bowo juga melakukan hal yang sama. Bahkan ia lebih mudah sehrusnya ketika melakukan pencitraan di Jakarta. Pengalamannya memimpin Jakarta selama 5 tahun seharusnya menjadi kelebihan tersendiri bagianya untuk mngetahui karakter masyaraktak Jakarta. Ia terus melakukan sosialisasi tentang program – program yang telah berhasil dikerjakan saat ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Kedua pihak saling merebut simpati masyarakat dengan caranya masing – masing.
*****
Saya meyakini bahwa orang pasti ingin dicitrakan dengan citra yang baik. Terlebih ketika orang tersebut ingin menjadi seorang pemimpin. Sejak awal ia harus membangun citra yang positif di hadapan rakyatnya. Banyak alasannya, selain untuk memenangkan simpati masyarakat, sebenarnya Citra juga dibangun untuk menjaga kondisi agar sang pemimpin tersebut ingat apa yang pernah menempel di dirinya. Ingat akan apa yang akan dilakukan olehnya ketika ia memimpin rakyatnya.
Sayangnya, kegiatan pencitraan ini banyak disalahartikan oleh beberapa pihak , yang memang hanya ingin memenangkn suaranya di kantong tertentu. Pencitraan hanya dilakukan di awal kegiatan. Karena sifatnya yang bisa dibentuk, maka setiap kegiatan kita bisa menjadi citra untuk diri kita sendiri. Akhirnya tiap orang berlomba – lomba untuk membuat citra yang positif dan baik tentang seseorang, tidak peduli bagaimana akhirnya.
Setelah seseorang memiliki brand atau citra yang baik, secara naluriah seharusnya seseorang harus memiliki integritas untuk mempertahankannya. Karena setelah seseorang memiliki suatu nilai yang telah disematkan oleh orang lain terhadap dirinya. Dan ketika orang tersebut telah memiliki nilai yng telah disematkan orang lain terhdap dirinya, maka ia diharapkan menjdi panutan dan teladan untuk orang – orang yang ada di sekitarnya. Alangkah baiknya ketika seseorang yang telah memiliki nilai yang baik dan telah menempel di dirrinya kemudian orang tersebut memiliki kemampuan dan menjaga integritasnya agar orang lain tetap percaya kepadanya....
Inilah yang seharusnya menjadi sedikit koreksi bagi calon pemimpin DKI Jakarta. Saat ini secara dministratif Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Solo. Disana ia pun telah tercitrakan sebagai wlikota yang baik dan sangat dekat dengan rakyatnya. Sehingga rakyatnya suka kepadanya. Namun kalau kita bicara tenteng loyalitas, Jokowi perlu ditanyakan. Memang, ia dapat menjadi panutan warga Solo bahkan mungkin bagi sebagian kepala daerah di Indonesia karena ia sangat dengan warganya. Namun, inisiatifnya untuk meninggalkan warganya di Solo lalu ”berkarir” di Jakarta itulah yang seharusnya menjadi poin koreksi tersendiri bagi warga Solo. Ia memang sdah banyak melakukan banyak perubahan di Solo, ia juga telah dekat dengan warga Solo. Namun, ia tetap tidak menyelesaikan janjinya di Solo.
Lain hal Jokowi, Foke banyak tersandung masalah integritas di Jakarta. Ia memang masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sampai Oktober nanti. Namun tampaknya warga Jakarta sudah tidak betah menjadi rakyat Foke. Sikapnya yang kadang tidak bisa menjadi panutan warga Jakarta itulah yang membuat masyarakat Jakarta berfikir kembali untuk menjadikan Foke sebagai Pemimpinnya. Satu sisi pemimpin harus mengayomi warganya, ia kadang terlihat marah – marah dengan warganya. Ketika warga Jakarta memutuhkan transportasi yang baik, program transpotasi massal yang dicanangkannya baru muncul ketika ia akan turun. Hmmm...
*****
Bentuk integritas yang dapat kita lakukan tidak hanya mempertahankan nilai – nilai yang kita miliki yang telah diberikan oleh orang lain. Ketika kita mampu tetap bertahan dengan segala macam yang sedang mendera kita dan kita tidak meninggalkan orang – orang yang berada di sekitar kita maka itu juga merupakan integritas. Karena integritas inilah yang nantinya akan melahirkan nilai selanjutnya, Reputasi.
Reputasi adalah brand terahir terhadap seseorang yang telah tersemat dalam dirinya ketika ia telah selesai melakukan kegiatan terakhirnya. Reputasi inilah yang akan mengingatkan orang lain tentang dirinya dan akan membuat orang lain mempertimbangkan tentang dirinya untuk kegiatan atau untuk memberikan kepercayaan kembali kepadanya di lain waktu. Reputasi ini menunjukkan kondisi real dari seseorang tentang apa yang dilakukan oleh orang tersebut.
Dalam hal reputasi Jokowi masih bisa sedikit selamat dari Foke. Keberhasilannya di Solo membuat reputasi namanya melambung di jajaran pemimpin daerah. Namun, kembali lagi ke Integritas dan loyalitas yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin tadi. Apabila Jokowi tak pandai – pandai memelihara dan menjaga integritasnya di Jakarta 5 tahun mendatang, jangan salahkan warga Jakarta apabila ia akan terCap sebagai seseoarang yang tidak memiliki loyalitas. Dan sebagai warga Solo sebaiknya juga bisa melihat kondisi pemimpin daerahnya, benarkah ia memiliki integritas dan loyalitas terhadap daerahnya, minimal selama mereka belum ditinggalkan.
Loyalitas Foke untuk Jakarta, sebenernya tidak diragukan lagi. Kesetiaannya menjaga ibukota sampai (hampir) 2 periode ini menunjukkan bahwa ia terlihat sedikit serius ingin menangani Ibukota. Sayangnya, reputasi berkata lain. Integritasnya untuk membenahi ibukota tidak sempat ia wujudkan. Bahkan ia pun sempat dilaporkan meninggalkan sejumlah maslaah sebelum ia turun. Sehingga kondisi integritasnya, perlu dipertanyakan pula.
*****
Saat ini kita sedang berada pada fase memperhatikan bagaimana seseorang mencitrakan dirinya. Sayangnya citra yang dibangun tidak membuat dia tetap menjaga integritas yang diberikan yang seharusnya dapat membuat ia dapat menjadi panutan untuk orang yang ada di sekitarnya. Entah reputasi apa yang akan diterimanya...

Wallohu’alaam . .
Ciputat, Ahad, 23 September 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar